Mancu dan Cerita La Sapi

By Redaksi-Jarak 08 Jan 2019, 12:20:12 WIB SOSOK
Mancu dan Cerita La Sapi

Keterangan Gambar : Mappamancu M Anim


APA arti sapi bagi Anda? Kalau pertanyaan itu diajukan ke warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, jawabannya, sapi sangat, sangat menolong. Sapi jadi penolong saat orang tua kesulitan membiayai pendidikan anaknya. Sapi juga sangat membantu ketika seorang calon pengantin kesulitan memenuhi mahar pernikahan, atau istilah daerah setempat disebut sebagai uang panai. Uang panai yang jumlahnya cukup besar menjadi syarat adat untuk biaya pesta perkawinan pengantin wanita.

Pentingnya arti sapi bagi peternak di Sinjai seharusnya membuat mereka dapat beternak dengan baik dan benar. Fakta di lapangan, masih banyak hewan peliharaan, tidak hanya sapi, yang kurang terawat dan sakit-sakitan. Selain itu, ada pula hewan ternak yang tetap kurus meski sudah banyak makan. Yang lebih fatal lagi, harga jual sapi sering dipermainkan tengkulak sehingga peternak tidak mendapatkan harga yang seharusnya.

Kondisi inilah yang memicu drh. Mappamancu mencari cara yang tepat, mudah, dan menjangkau seluruh peternak untuk menyosialisasikan cara beternak yang baik, sekaligus membebaskan mereka dari permainan tengkulak. “Harus ada pelayanan manajemen dan kesehatan hewan untuk semua jenis ternak,” ujar Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sinjai ini.

Ide bisa datang dari mana saja, demikian juga ide alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali ini dalam membantu peternak. Ia justru tertarik menyontek praktek penipu “mama minta pulsa” yang sering terjadi beberapa tahun silam. “Dengan mengirim SMS sebanyak mungkin, para pelaku bisa menipu banyak orang. Kenapa cara ini tidak digunakan untuk hal yang positif,” ujar Mancu, panggilan akrab Mappamancu.

La Sapi

Ide ini dilontarkannya pada tahun 2016 saat diundang menjadi pembicara dalam pertemuan penanggulangan penyakit hewan Kawasan Indonesia Timur yang dilaksanakan Balai Besar Veteriner Maros di Mamuju, Sulawesi Barat. “Saat itu saya sampaikan bahwa SMS broadcast bisa dimanfaatkan sebagai early warning systemkepada masyarakat apabila ada kejadian penyakit hewan, khususnya yang berbahaya seperti anthraks atau rabies,” ujar Mancu. Ketika itu ia masih menjadi staf medik veteriner sekembali tugas belajar dengan beasiswa Australia Awards di The University of Melbourne, Melbourne, Australia.

Ide yang agak out of the box tersebut ternyata agak susah diterima dalam kegiatan yang di danai oleh pemerintah daerah melalui belanja dinas. Namun Mancu tidak patah semangat dan berupaya mencari sumber pendanaan lain. Akhir 2017, proyek dengan nama La Sapi ini bisa terealisasi. Mancu memenangkan kompetisi bantuan dana hibah (Alumni Grant Scheme/AGS) dari Australia Global Alumni yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia. “Alhamdulillah…,” ujar Mancu.

AGS merupakan kompetisi hibah untuk alumni Australia, baik jenjang short course maupun S-1, S-2, dan S-3. Dengan bantuan ini, para alumni didukung untuk mewujudkan inovasi dan perbaikan bagi masyarakat di sekitarnya. Dari 400 proposal yang masuk pada saat itu, proposal yang diajukan Mancu termasuk salah satu dari 25 proposal yang disetujui. Bantuan AGS membiayai semua komponen program yang meliputi pembelian peralatan, pengumpulan nomor HP peternak, pembelian pulsa, serta kebutuhan lainnya.

La Sapi adalah singkatan dari Layanan Selular Peternakan Terintegrasi. Program berbasis aplikasi SMS ini mampu memberikan pelayanan kepada semua peternak di Kabupaten Sinjai. Ada 15 ribu nomor telepon peternak yang berhasil dikumpulkan. Mereka bisa mendapatkan layanan selama masih terhubung ke jaringan telepon seluler.

Ada lima aksi bantuan peternak (5 Baper) yang diberikan melalui La Sapi, yakni bantuan jual ternak, bantuan beli ternak, bantuan layanan yang meliputi layanan IB (inseminasi buatan), layanan kesehatan hewan, layanan kartu dan asuransi ternak, bantuan informasi manajemen peternakan dan kesehatan hewan, serta bantuan layanan penggaduhan ternak.

Cara kerja program ini sangat mudah. Setiap peternak yang akan menjual hewannya akan menginformasikan kepada petugas di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai melalui SMS di nomor 085 315 01 01 01. Petugas kemudian memverifikasi informasi tersebut terkait dengan berbagai data seperti jenis kelamin, umur, berat, kondisi kesehatan, dan sebagainya.

Setelah itu petugas dinas akan mem-broadcast informasi ini ke seluruh pedagang sapi yang ada di kabupaten Sinjai. “Karena informasi bersifat terbuka dan semua pedagang mengetahuinya, harga jual menjadi lebih kompetitif dan menguntungkan peternak,” ujar ayah dua anak ini.

Begitu pula ketika ada hewan yang sakit. Peternak tinggal menginfokannya melalui handphone masing-masing dan langsung direspon melalui SMS broadcast. Bila perlu penanganan lebih lanjut, petugas kesehatan hewan terdekat dari lokasi peternak bisa datang memeriksa.

“Salah satu kelebihan sistem ini karena bisa diterima dan menjangkau siapa pun yang berada di dekat ternak. Jadi kalau suami peternak sedang tidak di rumah atau sedang bekerja di tempat yang jauh, informasi bisa diterima isterinya atau keluarga lain,” kata Mancu.

Dinas Peternakan melalui La Sapi juga memberikan penyuluhan tentang cara beternak yang baik melalui SMS. Cara ini dirasakan sangat berguna bagi para peternak, seperti disampaikan salah satu peternak, Andi Muhammad Yusud, yang memiliki 50 ekor sapi.  “Informasi yang kita dapat sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Juaefa, peternak lainnya. “Kenapa sapi saya tetap kurus walaupun makannya kuat. Lalu  melalui SMS saya bisa mendapat penyuluhan,” katanya. Dibantu teknologi yang sederhana, petani Kabupaten Sinjai bisa memajukan usahanya. Kualitas ekonomi mereka pun menjadi lebih baik.

Peternak di kabupaten seluas 820 kilometer persegi ini juga makin senang karena program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) berjalan dengan baik. “Ini adalah program Kementerian Pertanian yang kami gencarkan mengingat pentingnya ternak sapi bagi masyarakat sehingga perlu diberikan perlindungan langsung,” kata Mancu lagi.

AUTS memberikan perlindungan kepada peternak apabila ternak mereka mati karena sakit, mati karena kecelakaan, mati karena melahirkan, dan hilang karena pencurian. Jumlah premi yang dibayarkan adalah 5% atau Rp 200 ribu dari pertanggungan Rp 10 juta. Khusus untuk sapi betina, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian memberikan subsidi premi 80% sehingga peternak hanya membayar premi Rp 40 ribu.

Melihat pentingnya asuransi bagi peternak, Pemerintah Kabupaten Sinjai tahun ini juga sudah menandatangani MOU dengan Asuransi Jasindo untuk mensubsidi 20% premi bagi sapi betina yang dikawinkan dengan cara inseminasi buatan. Hal ini membuka peluang masyarakat di Sinjai untuk mendapatkan asuransi tanpa membayar premi sepeser pun. 

“Saat ini mungkin banyak daerah yang sudah memanfaatkan asuransi ternak bekerjasama dengan BUMN Asuransi Jasindo, tapi yang memberikan peluang kepada peternak mendapatkan asuransi dengan premi Rp 0 baru di Kabupaten Sinjai,” kata Mancu.

Secara bertahap kualitas peternakan sapi di Sinjai makin membaik. Saat ini populasi sapi di daerah ini sebanyak 105 ribu ekor, nomor empat terbanyak se-Sulawesi Selatan, setelah Kabupaten Bone dengan populasi sekitar 419 ribu ekor, Kabupaten Wajo (119 ribu) dan Kabupaten Gowa (107 ribu).

Mengabdi di Kampung Halaman

Setelah menyelesaikan kuliah di Universitas Udayana, Bali pada tahun 2004, drh. Mappamancu langsung mengabdi sebagai tenaga sukarela Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai. Saat itu datang sejumlah tawaran kerja dari perusahan swasta yang bergerak di bidang obat hewan.

“Tawaran itu cukup menggiurkan, dengan iming-iming gaji sekitar 10 kali lipat, malah 20 kali lipat bila termasuk tunjangan dan lainnya, dari honor saya sebagai tenaga sukarela plus mobil operasional,” kata suami Andi Nurhayati ini.

Mancu tidak serta merta menerima tawaran ini. Ia menyempatkan diri sholat istikharah, memohon petunjuk Allah SWT dan berdiskusi dengan orang tua. Orang tua Mancu yang dua-duanya juga PNS menyarankan untuk tetap teguh dalam pengabdian kepada masyarakat sebagai pegawai sukarela. “Alhamdulillah, pada tahun 2005 saya diangkat menjadi CPNS setelah lolos tes CPNS pada akhir tahun 2004,” katanya.

Mancu menyadari bekerja sebagai PNS di daerah tentu tidak sesejahtera menjadi dokter hewan di perkotaan. Ia tidak bisa praktek dan memungut bayaran dari peternak di desa-desa. “Bagaimana mau meminta bayaran, wong kita melihat kehidupan mereka saja sudah prihatin,” katanya.

Dengan aktivitas yang selalu berdekatan dengan hewan membuat Mancu juga rentan terpapar virus. Salah satunya ia sempat menjadi suspect flu burung pada tahun 2005 dan sempat diisolasi di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar selama satu minggu.

Berkat kreativitas dan inovasi Mancu, peternak di Kabupaten Sinjai menjadi lebih sejahtera. La Sapi membuat mereka tidak perlu khawatir ketika ternaknya sakit atau terkena masalah lain. Mereka juga bisa menjual ternaknya sesuai harga pasar, tanpa di dikte oleh tengkulak.

Lumayan! Harga sapi jantan ras Bali di Sinjai berkisar Rp 13 juta. Sementara harga sapi hasil inseminasi buatan berkisar Rp 15-20 juta, bahkan lebih. Dengan demikian, seorang bapak tak khawatir membiayai pendidikan anaknya, pemuda lajang juga tak perlu resah membayar uang panai ketika akan menikah. (*)

 |SUWANDI




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment